fourth part...
"huhh, cukup jauh juga.."
aku mengeluh pada diriku sendiri.
setelah berjalan cukup jauh, aku baru menemukan adanya kehidupan lain, sebuah komunitas, mungkin beberapa, banyak, ahh yg jelas cukup besar.
dan ternyata sejauh ini aku terpisah dari mereka..
yahh aku ga tahu kenapa bisa begitu jauh, entah apa yg ada dalam pikiran penciptaku.
sudahlah, lupakan hal itu.
mari kita kenali daerah ini.
hemm, sepertinya ini sebuah pasar malam.
aku melanjutkan langkah kakiku, mencari tempat untuk sejenak melepas penat.
"hujan!"
kudengar teriakan dari arah belakangku.
dan benar, orang-orang pun mulai berlarian untuk mencari tempat berteduh.
tanpa sadar akupun juga ikut panik.
clingak-clinguk, kutengok samping kanan dan kiriku, dan sampai akhirnya aku menengok kebelakang..
kulihat dia berlari melawatiku..
"dika.."
suaraku tertahan karena kaget.
bahkan aku sempat terdiam beberapa detik sebelum aku akhirnya memutuskan untuk mengejarnya.
jauh kiranya aku berlari mengejarnya.
aku menghentikan lariku.
aku tertinggal jauh dan kehilangan jejaknya.
yg kutahu dia masuk gang bercat merah tua itu, jauh dari tempatku berpapasan dengannya.
tanpa berpikir lagi, aku memasuki gang itu.
kususuri sepanjang gang.
agak sempit..
tembok-tembok rumahnya kusam seperti sudah lama ditinggalkan penghuninya..
dan disinipun masih hujan, bahkan semakin deras.
dan aku hampir terkejut ketika kulihat seorang cewe berdiri mematung di tengah jalan gang.
dia berdiri menghadap sebuah rumah di ujung gang.
terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.
dika?
bukan, dia sedikit pendek dan lebih kurus dari dika.
ah siapa peduli, lebih baik aku mencari dika.
kemungkinan rumahnya ada di gang ini.
dengan teliti aku mencari rumah demi rumah.
akhirnya, aku menemukan sebuah rumah yg di terasnya masih tertinggal sepasang sandal kotor bekas lumpur di pasar malam.
ini pasti sandalnya..
aku meyakinkan diriku sendiri.
aku tidak sabar ingin menemuinya.
tapi..
ini sudah larut, lampu di rumahnya pun udah dimatikan.
yahh mungkin lebih baik aku berteduh disini dan menunggu sampai pagi tiba.
"huh, bajuku basah kuyup..
masuk angin nih!"
brr, dingin..
aku mencoba untuk lebih masuk ke teras agar tidak terkena air hujan.
agaknya, ada pemandangan yg sepertinya ganjil di gang ini..
cewe yg kulihat tadi masih tetap berdiri mematung!
sekitar 2-3 rumah jaraknya dari sini.
"dasar gila, ujan-ujan gini.."
aku menggelengkan kepalaku.
sambil kembali memeras kemejaku yg basah, aku kembali memperhatikan cewe itu.
sepertinya dia sedang memandang sesuatu dari jendela rumah yg masih terbuka itu.
tapi kenapa dia tidak mengetuk pintu rumah itu saja?
kenapa dia harus berdiri dan hanya memandang?
toh lampu dirumah itu masih menyala terang..
pertanyaan-pertanyaan ini satu demi satu masuk di otakku.
tiba-tiba dia membuka mulutnya, mungkin bermaksud untuk memanggil seseorang yg dia lihat di dalam rumah itu.
namun dengan cepat tangannya menyekap mulutnya sendiri, seakan menahan suara yg hendak dikeluarkan.
aneh, gila, psycho..
itulah yg aku pikir tentangnya.
beberapa saat kemudian dia seperti hendak membuka mulutnya, namun diurungkannya kembali.
berulang kali dia seperti itu.
namun untuk yg keempatkali menahan teriakan, dia jatuh tersimpuh.
aku kaget dan hampir keluar dari teras untuk menolongnya.
namun kuurungkan karna keadaan masih hujan deras.
"HEI!!"
aku berteriak, berusaha memanggilnya dari teras.
namun sepertinya dia tidak mendengar.
wajahnya tertunduk..
agak lama, dengan perlahan akhirnya dia berdiri lagi.
"aku heran, sebenernya ada apa sih dengan cewe psycho itu?
apa di..."
aku kembali kaget dan menghentikan kata-kataku karna melihat dia kembali jatuh.
kali ini aku benar-benar ingin menolongnya, tapi tiba-tiba dia sudah berdiri lagi.
beberapa kali dia jatuh tersimpuh dan kembali berdiri sendiri seperti orang aneh.
aku ga habis pikir kenapa..
dan akupun juga ga sempet nolong dia, apalagi masi hujan gini.
kinipun dia masih terjatuh lagi, udah lama tapi ga..
aku menghentikan lamunanku dan segera berlari kearahnya yg dari tadi jatuh dan tidak bergerak sama sekali.
apa dia mati?
pikirku..
"HEI BANGUN!!"
teriakku sambil menengadahkan wajahnya.
dia masih sadar..
agak menggigil, dia menggigit bibirnya yg mulai biru karna kedinginan,
matanya sendu..
seperti mengeluarkan air mata.
tapi aku ga tahu, apakah air mata atau air hujan yg menetes di pipinya.
kuraih tangannya dan membantunya berdiri,
BERAT..!!
padahal dia cuma seorang cewe mungil yg kurus, tapi entah mengapa terasa begitu berat hanya untuk membantunya berdiri.
setelah membantunya berdiri, aku gandeng tangannya, bermaksud untuk mengajaknya ikut berteduh.
namun tubuhnya tak mau beranjak..
"ayo berteduh!"
kataku dengan setengah teriak.
dia menggeleng kepalanya pelan..
"aku ingin menunggu.."
jawabnya pelan, hampir tidak terdengar.
aku ngotot,
"kita kan bisa nunggu disana (sambil nunjuk teras rumah dika), kenapa harus hujan.."
melihatnya tersenyum membuatku menghentikan kata-kataku..
"hujan.. tiap tetesannya seakan menyadarkanku untuk bangun kembali.."
"semakin terpuruk, maka akan semakin besar hujan yg turun.."
"saat itulah aku tahu, betapa besar keinginan hujan untuk menyadarkanku.."
"aku kuat bersama-nya!"
mendengarnya, membuatku menggenggam tangannya lebih erat..
bukan untuk mengajaknya pergi, tapi untuk menemaninya disini..
malam itu aku habiskan bersama dia dan hujan..
daripada memberi dia keteduhan, aku lebih memilih menikmati hujan dengannya..
karena dia "Gadis Hujan"
di sebuah desember aku kembali teringat lagu yg pernah kita nyanyikan bersama..
"Remember the rain toki ga tomatta mama
Zutto samenai yume wo miteiru
Me wo tojireba kawaranu kimi ga kokoro wo nurasu
Zawameku machi kyo mo ame ga utau.."
"Remember the rain
the time has stopped
forever in a dream from wich you won't wake up
if I close my eyes, you, who are always the same, soak into my heart
Today, in the noisy street, the rain sings too.."
"Deluhi - Remember the Rain"
Rain's next to me..


0 comments:
Post a Comment